Skogskyrkogården

skogskyrkogården

Pagi ini tiba-tiba rindu menulis, tapi tanpa ide. Dari sekian banyak yang tertunda dari mulai konser Sam Smith, Penang, Petra, atau Bali, saia tetap memilih Stockholm, just a little part of Stockholm named Skogskyrkogården. Could anyone guess what it is?. Skogskyrkogården (dibaca: skogsyirkogorden, #cmiiw) is a UNESCO World Heritage Site, dan itu adalah cemetery. Cemetery di Stockholm bagi saia tidak terlalu menakutkan karena semua rapi dan seperti taman saja, dan ini luas banget bahkan 3 (tiga) tahun tidak membuat saia berhasil mengunjungi setiap sudutnya.

Continue reading

Tyresö slott

Hej hej, hur mår du?

Stockholm masih menyisakan banyak kenangan, bahkan hingga saat ini. Jika dibilang belum move-on mungkin benar, tapi lebih tepat untuk tidak memilih untuk move-on :mrgreen:. Jadi mungkin lebih baik saia cerita-cerita saja hal-hal menarik di Stockholm dan sekitarnya. Mari! 😀

Continue reading

niatnya berhenti hiatus

Entah sudah berapa lama saia tidak kembali ke “rumah” sendiri. Padahal ada beberapa yang bisa saia tulis, paling tidak beberapa perjalanan random nonton Sam Smith, Bali (akhirnyaaa) termasuk Nusa Penida, atau Yogyakarta. Bahkan untuk mengurut dari kejadian paling terdahulu saja saia tidak mampu, duh sedih lho. Padahal meskipun sedikit tapi nampaknya layak dibagi.

Sepulang dari Stockholm untuk kedua kalinya, memang saia sempat hilang semangat, semacam tidak tahu harus apa, tapi lalu saia bisa qo ke Palembang meskipun sekadar kondangan, ke Yogyakarta untuk reuni kecil anti-social social club, manfaatin Garuda Fair untuk pergi ke Penang, kangen nonton konser lalu nonton Sam Smith dan ada yang random datang hingga akhirnya ke TMII lalu Bali dan sebentar lagi mau ngrandom lagi. Target saia cuma 1x dalam setahun qo ngrandomnya, namun entah kenapa semua di 2018 semua perjalanannya terasa random. 😆

Ya gapapa lah ya, yang penting jadi ada niat untuk kembali dan berhenti hiatus. 😀

Doakan saia ya supaya bisa konsisten, dan semoga ga alay-alay lagi. :mrgreen:

Lost in Agadir

Ada haru yang teramat sangat ketika bertemu orang-orang yang ketulusannya tidak bisa dibandingkan dengan siapapun. Mereka yang baik tak terkira dan selalu tertawa untuk setiap moment hidupnya.

Lalu aku tertunduk malu dan tidak lagi berani mempertahankan semuanya.

ini bukan perihal reverse culture shock tapi perihal hati.

Nacka

Somewhere at Nacka


Teringat 2 bulan lalu yang akhirnya bisa berkata dengan leluasa kalau 3 tahun itu sangat tidak terasa, sangat-sangat tidak terasa. Teringat awal-awal di Stockholm yang merasa homesick, bahkan saia butuh satu tahun untuk kemudian sadar bahwa negara itu sama sekali tidak untuk disia-siakan. Bayangkan di awal tahun saia tidak berhenti mengeluh dan membandingkan Indonesia dengan Swedia, tidak berhenti misuh-misuh akan sepi dan dinginnya negara itu, akan terang dan atau gelap yang terlalu lama, entah apa yang terjadi di tahun pertama yang membuat saia betapa sulitnya menikmati negara itu, yang sekarang diagung-agungkan dan diidam-idamkan seakan ingin kembali lagi. Eh.

Continue reading

vi ses Stockholm

City Hall

Stadhuset:City Hall


Tidak ada yang lebih menyenangkan dari merencanakan perjalanan. Entah kapan akan kembali liburan lagi tapi lantas terbayang jika dan hanya jika diberi waktu satu minggu saja untuk kembali ke Stockholm, saia harus apa dan atau kemana saja?

Continue reading

Unmeasured Distance

Segala macam memory berputar-putar begitu saja dengan acaknya, entah ketika Uwa membuatkan dua bungkus mie instan goreng lengkap dengan telur setengah matang, membuatkan susu dengan takaran 3 sendok susu bubuk Bendera, 1 sendok susu Ovaltine dan gula, membiarkan saia ikut mengaduk meski baru dicampur sedikit air lalu membiarkan saia yang masih kecil itu mencicipinya meski susu itu masih sangat kental. Tidak lupa juga bagaimana Uwa menyiapkan baju les, menyuruh mandi dan menyiapkan baju ganti. Membiarkan saia yang masih kecil mencuri-curi ke dapur untuk makan mentega. Tidak lupa juga bagaimana Uwa ikut memberi makan kucing-kucing kesayangan, menemani saia belajar menulis dan membaca. Tidak pernah lupa juga bagaimana Uwa menyajikan reuceuh timun dan leunca, ayam penyet, ayam pop, tumis buncis, sambel goreng teri lengkap dengan pete, sayur kacang merah ataupun semur dengan alasan “ai doyan”.

Yang saia lupa adalah kapan terakhir memeluk Uwa, yang saia lupa adalah kapan terakhir mendengar Uwa bilang “Uwa sakit”, bahkan sampai saat terakhir saia tidak ada disamping Uwa. Lalu saia sempat iri dengan kakak-kakak saia yang saat itu ada disamping Uwa, saia sempat iri karena saia terlalu jauh bahkan untuk mencium tangan Uwa. Google bilang jarak kami saat itu 10.521km, atau mungkin lebih karena itu jarak Stockholm ke Jakarta. 

“Yah qo Uwa pergi?” Begitu ujar saia dalam hati, tapi lalu saia berusaha untuk ikhlas dan tidak menyesal, meski jujur, hal itu teramat sulit. 

Uwa yang teramat baik, semoga Uwa mendapat tempat terbaik di sisi Allah ya. Ya Allah, saia mohon dengan amat sangat, jaga Uwa baik-baik, lebih dari sewaktu Uwa menjaga dan merawat kami dari kecil. Ya Allah saia mohon dengan amat sangat jangan beri Uwa siksa kubur sekalipun, dan jika diperbolehkan, saia mohon dengan amat sangat untuk memeluk Uwa dengan erat meski kami sudah terpisah oleh jarak yang tak terukur. Aamiin aamiin aamiin.. Please kabulkan ya Allah.

Uwa is my greatest center-piece, i love you so much.


Ps: Uwa adalah Kakak paling tua dari Mamah yang sudah ikut merawat anak-anak Mamah dari kecil. For me she’s also my mother.