hati-hati

Seperti pernah bahas ini sebelumnya, tapi lupa dimana, smoga bukan disini.

Perihal hati-hati.
Hati-hati di jalan.
Hati-hati dg sekitar.
Hati-hati dg hati.

Harus berpikir baik-baik sebelum bertindak. Hati-hati untuk tidak “menelan” bulat-bulat, bukan bundar-bundar, tentang apa yang dikatakan orang lain. Hati-hati dengan kepercayaan.

Bagaimana harus bertindak jika setiap waktu harus hati-hati. Bagaimana harus tegas jika masih hati-hati.
Lalu berhati-hatilah dg hati. Dg rasa yang mungkin muncul. Belajar mengontrol atas apa yang dirasa.
Ah randomnya malam ini.

Posted with WordPress for BlackBerry.

soundtrack of life *halakh*

Ide bercerita kembali datang pas di perjalanan pulang dan..macet! Mari menikmati kemacetan.

Jadi begini, 2 hari belakangan ini saia kembali mendengarkan album Continuum-nya John Mayer. Secara gasengaja dan pas banget karena harus meneruskan ‘kuil’ yang pernah dikerjakan beberapa bulan lalu. Untuk diketahui, kenapa disebut kuil karena pekerjaan ini dikerjakan tanpa perencanaan yang matang, ekspektasi yang besar, idealisme yang diganggu, kurangnya pemahaman akan sisi lain yang harus direncanakan. Tok, hanya merencanakan ‘sesuatu’ agar bisa terintegrasi dan komprehensif untuk 5 tahun ke depan!. #lostfocus
Oke sampe dimana tadi, album Continuum-nya JM yang kalau dengerin itu, sekelebatan masa-masa bangun kuil muncul begitu aja, benar-benar jelas tentang apa yang dulu dilakukan. Sangat membekas sekaligus menyenangkan. Sayangnya sekarang saia harus bekerjasama dg tim ‘baru’ dimana saia harus berpura-pura ramah. Poor me! Tapi saia juga gamau sih kalau teman-teman saia yang dulu ngerjain bareng, terjebak di situasi yang gajauh berbeda.

Kenapa jadi ngomongin kuil lagi coba?! -oo-

Padahal ya, maunya tu cerita-cerita. Kalau denger lagu ini pasti inget ini, kalau lagu itu pasti inget itu. Seakan-akan hidup saia tu ada soundtracknya *kadang-kadang* #halakh :mrgreen:

Kalian gitu juga ga si? Let me know what song(s) will remind you of something? Kali aja bisa nambahin playlist saia nanti #loh :mrgreen:

bahu?!

Pernah baca entah dimana klw sebaiknya kita jangan terlalu berharap banyak pd seseorang, sesuatu, atau apapun itu selain pd diri sendiri. Kenapa? Karena itulah salah satu penyebab ke.ce.wa.

Lalu apa hubungannya dg bahu? Belum ada.

Continue reading

Hari ini..magic. Heheu..
Beberapa harus disimpan disini, mungkin lain waktu enak dibaca lagi, berharap.

Pagi.. Ngobrol panjang dg teman, gabisa komentar banyak, pengen bilang agar supaya dia tidak mengalah, tapi sepertinya orang2 terdekatnyalah yang paling mengerti agar supaya dia stop dan perlahan-lahan menormal.

Siang.. Obrolan dg atasan dan lainnya, tentang komitmen. Ketika dia berbagi cara pandang ttg komitmen sbg lelaki, tok hanya sebagai lelaki tidak memikirkan konsekuensi kami si anak buah yang perempuan, kuping saia seakan menolak untuk mendengar. Tapi nyatanya ngga, justru setiap ucapannya malah masuk ke hati. Gado-gado lontong terasa hambar meskipun dimakan sambil diliatin, hhh. Dia bilang prioritas itu sifatnya sementara. Untuk apa nikah klw hidup misah?. Untuk apa materi klw cm dinikmatin sendiri? Suami harus bisa ngatur istri, bertanggungjawab penuh, istri harus nurut. Dan segala macam lagi yang ujung2nya klw dipautkan dg agama, jelas pendapat dia benar. Saia cm mainin kerupuk di piring, sambil pura2 bilang gamikirin yang belum kejadian. Padahal mah…mateee kepikiran gajelas.

Malam.. Ngobrol singkat tapi jleb dg si teteh. Ini masalah separuh agama, harus diprioritasin dulu. Omaigat..kenapa harus bawa2 agama.. T__T. Mereka, orang-orang terdekat yang tau persis gimana saia, fokus ke satu hal. Tapi ada satu kesempatan di depan mata yang saia pikir harus dicoba, meskipun hati meragu. *melipir*

Entah apa yang bisa disimpulkan dari semua itu. Yang jelas ini masalah komitmen, berani berkomitmen. Absurd ah. *dissapparate*

untitled

fotocopy tangan

our hands, our kuil.. 🙂

Juni ini ‘menyenangkan’..terlalu banyak hal baru yang tidak boleh dilupakan dan bisa dijadikan pembelajaran. Belajar mengontrol emosi, dan masih selalu gagal. Belajar ‘menjebak’ teman, dan ada yang lebih lihai. Belajar merendah demi tercapainya satu tujuan. Smangat naik turun, pernah merasa ingin menyerah lalu kemudian berusaha bangkit lagi. Sekarang, seharusnya sudah mendekati selesai, smoga tidak ada lagi tugas dadakan, pulang telat, fotocopy tangan, bahas core-ong, atau apalah hal aneh yang menyenangkan. Belajar untuk tidak menerima informasi mentah2, memfilter, menduga makna lain, mengerjakan tanpa terlalu banyak berpikir, menuntaskan sesuatu yang sebenarnya dalam hati kecil mengatakan bahwa ini belum tuntas, dan hanya bisa tuntas jika direncanakan matang-matang.

Selain dari semua itu..ini pengalaman. Saat ini menyenangkan, saat itu merasa tertekan. Terima kasih untuk semua ‘jin’ maaf jika banyak hal yang tidak berkenan. Ini media belajar ‘mengkhayal’ heheu.. :mrgreen:

Lisensi Produk Microsoft

Jangan harap dapat info apapun mengenai lisensi produk Microsoft disini. Tiba di satu waktu bener-bener pening gara-gara ga ngerasa sepaham sama referensi yang di dapat melalui Google *dan daya tangkap yg minim, mungkin*. OLP, NL, User Cal, Device Cal, Hierarki standar dan enterprise, volume lisensing, harus ada external connector atau apalagi itu istilah-istilahnya. Kenapa ga semudah beli 1 bisa untuk membangun aplikasi berbasis itu, contohnya SharePoint, kenapa saia ga ngerti-ngerti klw harus beli SharePoint untuk aplikasi-aplikasi yang mw dibuat? atau kenapa UsrCAL yang udah dibeli gabisa dipake untuk aplikasi lain.. Ahh beneran deh ga paham.. ada kah kursus khusus lisensi Microsoft ini? Dan yang mengagetkan lagi, kenapa pun partner Microsoft ada yang bilang “pun orang microsoft ada yang ga terlalu paham dengan skema lisensi yang mereka punya..” *terbelalak*

Dan sebelum di protes, iya belum Go Open Source karena ini ‘warisan’. *ngloyorpergi sambil lempar2kertas*