random vs absurd

Dua hari menjelang 2014, melupakan resolusi yang pernah dibuat dan sama sekali tidak tertarik lagi dengan resolusi baru. Belakangan ini saia sebut hidup saia random, dimana definisi random itu sendiri adalah:

ran·dom

adjective

  1. proceeding, made, or occurring without definite aim, reason, or pattern: the random selection of numbers.
  2. Statistics. of or characterizing a process of selection in which each item of a set has an equal probability of being chosen.
  3. Building Trades.
    1. (of building materials) lacking uniformity of dimensions: random shingles.
    2. (of ashlar) laid without continuous courses.
    3. constructed or applied without regularity: random bond.
  4. Informal.
    1. unknown, unidentified, or out of place: A couple of random guys showed up at the party.
    2. odd and unpredictable in an amusing way: my totally random life.

Atau bahkan saia sebut juga absurd:

ab·surd

adjective : utterly or obviously senseless, illogical, or untrue; contrary to all reason or common sense; laughably foolish or false: an absurd explanation.
noun : the quality or condition of existing in a meaningless and irrational world.

Tidak terdefinisi, ganjil, acak, gada artinya, ga rasional, bisa jadi bahkan patut ditertawakan?!. Rasanya gajelas, gapaham nonton film sepanjang 2,5 jam, baca buku tapi pikiran kemana-mana, gampang terdistraksi, emosinya naik turun, tapi kadang pikiran terfokus kepada satu itu. Semacam butuh belajar lagi, butuh duduk di kelas mendengarkan orang yang lebih dulu tau mengajari orang lain yang belum tau. Semacam keluar dari rutinitas, semacam pengen naik gunung, chit-chat di tempat makan sepi, ngobrol gabosan-bosan sampe-sampe kalo ada yang nanya abis ngobrol apa aja, saia gabisa jawab.

Ada yang mengingatkan, apapun yang terjadi itu semua supaya saia belajar, jadi kalo ngejalanin apa-apa jangan disesali, jadiin pengalaman, kalo salah jangan diulangi. Jangan membiarkan yang salah. Teman yang baik itu memang yang bisa mengingatkan, terima kasih ya.

Outbound!

Kebanyakan orang pasti sudah familiar dengan kegiatan outbound. Saia pertama kali ikutan Outbound ketika Diklat Prajabatan dan ternyata seru dibanding harus duduk di kelas mendengarkan widyaiswara yang entah bicara apa #eh *siap2 dijitak*
Continue reading