Jogja (day2) : around Karaton

Hari kedua di Jogja, harus dimulai dari pagi dan harus keliling kota, atau apapun itu yang tidak jauh dari Jogja. Dimulai dengan mencari sarapan di dekat penginapan, sengaja agak jauh sekaligus melihat-lihat sekeliling dengan berjalan kaki. Sarapan yang dipilih lagi-lagi soto bukan bubur ayam atau gudeg atau nasi padangšŸ˜³.
Oya, jadi sekitar jalan Prawirataman banyak penginapan, dan di setiap jalan masuknya ada semacam papan list penginapan yang ada di sepanjang jalan tersebut sekaligus jadi ‘pangkalan’ becak. Di Jogja tidak terlalu banyak angkot, bis 3/4 lewat sesekali, dan sisanya adalah becak, ada juga delman.

Setelah sarapan kami kembali ke penginapan untuk mengambil beberapa yang harus dibawa. Tujuan pertama sebenarnya Malioboro, semacam ga afdol klw gabeli sesuatu disana. Memilih becak, sempat sengaja diturunin di area yang banyak jual oleh-oleh dari mulai kaos, tas batik, asesoris, sampai makanan, tapi kami berencana untuk membelinya di saat-saat terakhir agar acara jalan-jalan tidak dibebanin bebawaan. Rencana melenceng, sepertinya Keraton lebih menarik, meskipun waktu SMP saia sudah pernah tapi saia tetap ingin lihat-lihat lagi, entah kenapa saia selalu suka adat Jawa, terlihat sopan, dan… gatau suka aja semacam ada aura tersendiri.
Musim liburan seperti ini, Jogja banyak pengunjung, dimana-mana ramai, jalanan pun macet, jadi rindu Jakarta *boong banget*:mrgreen:
Tiket masuk Keraton, yang ternyata tulisannya Karaton, cukup Rp. 5000/orang dan tiket Rp. 1000 untuk si camera. Keliling melihat-lihat, foto-foto, dan sesekali membaca. Beberapa ruang pameran sudah dilengkapi AC, ada ruang pertunjukan gamelan, ruang lukisan, ruang batik, dan banyak lagi, lalu ada pria-pria Jawa di setiap ruang tersebut yang bisa menjelaskan hal-hal yang kalian lebih-ingin-tau-i. Karaton ini luas, beberapa area dilarang untuk dimasuki karena memang bukan area pameran, rasa-rasanya butuh lebih dari sekedar 2 jam untuk lebih mengagumi apa yang ada disana. Ah sayang, waktu terasa sempit, kami harus pindah tempat. Destinasi selanjutnya tetap ke Malioboro, atau Prambanan, yang jelas kami harus minum es cincau untuk menyegarkan hari:mrgreen: Sambil jalan menuju destinasi selanjutnya, kami mampir ke Museum Kereta (jangan bayangkan KRL Jakarta-Bogor), Kereta yang dimaksud disini adalah kereta kuda, kereta kuda yang sudah tua sampai yang masih dipakai pada prosesi pemakaman sultan. Keretanya cantik-cantik, besar dan antik, lagi-lagi saia suka tanpa alasan. Museum ini tidak terlalu besar, paling sedikit cukup 30 menit untuk melihat-lihat dengan santai sambil foto-foto. Seselesainya, kami solat sambil istirahat, duduk sedikit dan tersadar klw rasa lelah mulai datang:mrgreen: Makan siang cari yang gampang, ada nasi gurih disekitaran Masjid, porsinya pas untuk kemudian memutuskan pergi ke Prambanan #lho. Kami ke halte bis Transjogja, tidak seperti halte bis Transjakarta, halte ini kecil dan armadanya ga banyak, sesampai di halte pun, kami dikecewakan karena kemungkinan sudah tidak ada lagi yang ke arah Prambanan, whew.

Destinasi berubah cepat, menuju taman pintar, karena dekat dengan halte bis. Sebenarnya tempat ini lebih cocok untuk anak-anak, ini sejenis PPIPTEK di TMII-Jakarta tapi sekaligus ada planetarium dan ada area untuk belajar membatik ataupun membuat sesuatu dari tanah liat. Memilih planetarium dengan alasan mau ‘ngadem’ heheu..tapi sayang sesampainya di loket, tiket masuk planetarium sudah habis, padahal baru sekitar jam 2. Batal ngadem deh, ya sudah kami coba belajar membatik. Jreng..jreng..ternyata banyak peminatnya, anak-anak, dan areanya kecil, sempit, gaminat berebut giliran dengan anak-anak yang ternyata kreasi gambarnya lebih bagus daripada gambar saia:mrgreen: Daripada waktu habis gajelas, akhirnya kembali menuju Malioboro, putar-putar di Pasar Beringharjo, makan bakso, lalu solat ashar. Jalan kaki, karena memang lebih cepat begitu. Pengen coba wedang ronde pinggir jalan, sate entah apa yang juga banyak dibeli orang, atau es dawet?! Aduh pengennya qo jajan makanan mulu #tepokjidat. Tapi berpacu dengan waktu yang sudah hampir maghrib. Lanjut ke Mirota Batik yang ternyata banyak batik sampai Bukoma, itu tu yang buat kepala, cuma Rp. 10.000 padahal di kereta ekonomi dijual Rp. 15.000 pake nawar lama, dan tau-tau udah isya ajah, wedew cepet amat inih. Keluar Mirota ternyata hujan lebat, becak pada pasang harga, tau ga masa yang biasanya 10.000 padahal dekat, saat itu mereka pasang harga 60.000, gilak! Ujan-ujan qo ya tega padahal klw mereka mau nego harga mereka bisa dapet lebih dari itu karena banyak yang perlu sama mereka. Oiya, ojek payungnya lucu, gede gila payungnya, semacam payung di tenda-tenda makanšŸ˜†
Dengan payung seadanya akhirnya kami bisa meneruskan perjalanan, pulang tentunya karena gamungkin aja rela ujan-ujanan demi nunggu pesta kembang api di tahun baru. Mampir ke mie jawa, makan lagi:mrgreen:

Malam terakhir di Jogja, sempet terdengar bunyi kembang api yang kaya bom, tapi ngantuk dan dingin, jadi mending lanjut tidur, untuk menyiapkan ‘pertarungan’ singkatesok hari. *ga asik ni anak*

Posted with WordPress for BlackBerry.

2 thoughts on “Jogja (day2) : around Karaton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s