oppa

*gambar menyusul, dr td failed melulu.. X_x*

Pertama kali kehilangan, sedihnya pake banget, kuatir karena dia lagi sakit, takut ada apa-apa di luar sana, dia kan biasa di kandang.

Kedua kali kehilangan, sudah melepaskan, ya sudah mungkin lebih baik melihatnya pergi daripada mati. Meski ternyata masih milik, saia tidak menjemputnya, membiarkannya, dan entah apa kabarnya sekarang. “Maafin aku ya Oppa.. ” 😩 *elus2darijauh*

Perihal kehilangan, perkara melepaskan dan dilepaskan, masalah pembiasaan tanpanya. Awalnya, saia pikir sama, tidak akan pernah mudah. Saia pikir setiap orang pernah merasakannya, tetapi waktu pemulihannya yang berbeda-beda. Kehilangan yang tidak melulu karena sesuatu yang salah.

Adakah yang setuju akan sesuatu bernama kehilangan sementara? Untuk kemudian nanti bertemu lagi? Dengan keadaan yang lebih baik, dengan rasa yang selama ini dijaga? Dijaga agar tetap baik dan benar untuk satu orang saja? Diperbolehkankah hal seperti itu?

P M S

Bersyukurlah para pria yang ga ngerasain yang namanya PMS. Mungkin udah banyak perempuan yang cerita tentang PMSnya, makanya awalnya saia enggan nulis-nulis tentang PMS.

Hampir sama dengan perempuan lainnya. Kadang merasa sedih akut, larut dengan pemikiran sendiri, tanpa bisa mengontrol air mata untuk berhenti keluar. Atau kadang merasa cepat marah, emosional, semua salah, dan jelas jadi galak. Bisa juga dengan pikiran random, bosan, menemukan titik yang tidak sesuai, ngambang, ga tentu arah.

Saia gapernah bener-bener tau gimana ngobatinnya. Tapi paling ga, skg saia tau kenapa tiba-tiba suka aneh. Sayangnya, pun tau, tetep aja ga bisa dikontrol. Ah perempuan.

1 atau 0

1 atau 0, baik atau buruk, ya atau tidak. Cukup hanya itu, satu waktu satu pilihan. Belajar tegas, belajar menjauhi makna relatif, belajar tidak labil, belajar, belajar, belajar. Baca, baca, baca. Ga ada yang terlambat. Kemauannya harus kuat!