Hari ini..magic. Heheu..
Beberapa harus disimpan disini, mungkin lain waktu enak dibaca lagi, berharap.

Pagi.. Ngobrol panjang dg teman, gabisa komentar banyak, pengen bilang agar supaya dia tidak mengalah, tapi sepertinya orang2 terdekatnyalah yang paling mengerti agar supaya dia stop dan perlahan-lahan menormal.

Siang.. Obrolan dg atasan dan lainnya, tentang komitmen. Ketika dia berbagi cara pandang ttg komitmen sbg lelaki, tok hanya sebagai lelaki tidak memikirkan konsekuensi kami si anak buah yang perempuan, kuping saia seakan menolak untuk mendengar. Tapi nyatanya ngga, justru setiap ucapannya malah masuk ke hati. Gado-gado lontong terasa hambar meskipun dimakan sambil diliatin, hhh. Dia bilang prioritas itu sifatnya sementara. Untuk apa nikah klw hidup misah?. Untuk apa materi klw cm dinikmatin sendiri? Suami harus bisa ngatur istri, bertanggungjawab penuh, istri harus nurut. Dan segala macam lagi yang ujung2nya klw dipautkan dg agama, jelas pendapat dia benar. Saia cm mainin kerupuk di piring, sambil pura2 bilang gamikirin yang belum kejadian. Padahal mah…mateee kepikiran gajelas.

Malam.. Ngobrol singkat tapi jleb dg si teteh. Ini masalah separuh agama, harus diprioritasin dulu. Omaigat..kenapa harus bawa2 agama.. T__T. Mereka, orang-orang terdekat yang tau persis gimana saia, fokus ke satu hal. Tapi ada satu kesempatan di depan mata yang saia pikir harus dicoba, meskipun hati meragu. *melipir*

Entah apa yang bisa disimpulkan dari semua itu. Yang jelas ini masalah komitmen, berani berkomitmen. Absurd ah. *dissapparate*